Jayapura. Tanah Papua kembali memanas. Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua pada 6 Agustus 2025 diprediksi bakal menjadi momen politik paling menentukan dalam sejarah provinsi ini. Di tengah riuh strategi dan tensi politik yang meninggi, satu sosok tampil mencolok membawa gelombang harapan dan kekuatan besar: Willem Frans Ansanay (WFA), politisi nasional bertangan dingin.
Didukung penuh oleh kekuatan politik yang tergabung dalam TRI Sulah Politik—yakni Bara JP, SOKSI, dan Garuda Nusantara—WFA tampil sebagai king maker baru yang siap mengubah peta kekuatan politik Papua. Dengan pengalaman panjang, pendekatan akar rumput yang matang, dan kemampuan merangkul seluruh elemen masyarakat, WFA mantap mengusung pasangan Matius Dereck Fakhiri dan Aryoko Rumaropen (MARI YO) menuju kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua.
“Saya membawa gerbong politik besar yang dulu kami berikan kepada Benhur Tomi Mano (BTM) pada Pilkada 2024. Tapi kali ini, arah telah berubah,” tegas WFA saat menghadiri jalan santai Car Free Day bersama pasangan MARI YO di Jembatan Merah, Jayapura, Sabtu (31/5).
Perubahan arah dukungan ini bukan tanpa alasan. Menurut WFA, tokoh besar sekaligus pembina utama Bara JP, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, terus diframing secara negatif oleh PDIP—partai pengusung BTM. Hal ini menjadi pemantik utama keputusan WFA menarik seluruh kekuatan politiknya dan bertarung habis-habisan demi kemenangan MARI YO.
“Kami tidak main-main. Ini pertarungan harga diri. TRI Sulah Politik saya kerahkan penuh Bara JP, SOKSI, dan Garuda Nusantara bergerak massif dari kota hingga ke pelosok di 8 kabupaten dan 1 kota. Mereka akan bekerja keras, mandiri, dan total untuk memastikan kemenangan MDF dan AR,” ujar WFA dengan nada tegas.
Bagi WFA, PSU kali ini bukan sekadar pertarungan politik melainkan pertarungan untuk perubahan, integritas, dan masa depan Papua yang lebih bersatu, adil, dan sejahtera. TRI Sulah Politik bukan sekadar koalisi, melainkan representasi kekuatan rakyat Papua yang ingin perubahan nyata




